Mengatasi Kebandelan Anak

Berikut terapi bertahap dalam menyadarkan kekliruan dan
kebandelan anak kecil yang disimpulkan dari sunnah Rasulullah

1. Menunjukkan kesalahan dalam bimbingan.
Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Umar bin Abi Salamah,
tuturnya, “Waktu bocah, aku pernah berada di pangkuan
Rasulullah SAW sembari tanganku mengacak-ngacak makanan di
piring. Rasulullah SAW langsung berkata kepadaku, ‘Hai bocah,
baca bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah
yang didekatmu.’ Begitulah cara makanku setelah itu.”.

2. Menunjukkan kesalahan dengan sindiran ramah.
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Abbas, tuturnya,
“Rasulullah SAW datang membawa susu sambil diapit Ibnu Abbas
di sebelah kanannya dan Khalid bin Al-Wahid di sebelah
kirinya. Rasulullah SAW berkata pada Ibnu Abbas, ‘Bolehkah aku
minumi Khalid dulu?’ (yang berada di posisi sebelah kiri,
padahal seharusnya yang didahulukan adalah yang sebelah
kanan). Ibnu Abbas menjawab, ‘Saya tidak ingin mendahulukan
seorang pun atas diriku dengan minuman Rasulullah SAW’. Segera
beliau raih Ibnu Abbas, lalu ia minum, baru kemudian Khalid.”

3. Menunjukkan kesalahan dengan pengarahan.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah r.a., tuturnya,
“ Al-Hasan bin Ali r.a. mengambil sebutir kurma shadaqah lalu
memamahnya di mulutnya. Nabi SAW pun langsung berseru,
‘Keluarkan kembali…keluarkan kembali…!’ agar ia segera
memuntahkannya keluar. Selanjutnya, beliau berkata kepadanya,
‘Tidakkah engkau tahu, kita ini pantang memakan shadaqah?’ “.

Diriwayatkan lagi oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Abbas,
tuturnya, “Al-Fadhl bin Al-Abbas tengah mendampingi Rasulullah
SAW ketika seorang perempuan dari Bani Khats’am datang meminta
fatwa kepada beliau. Al-Fadhl terus-menerus memandanginya dan
perempuan itu pun balas memandanginya. Melihat aksi tersebut,
Rasulullah SAW segera memalingkan wajah Al-Fadhl ke bagian
lain.

4. Menunjukkan kesalahan denan bentakan.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Dzar, tuturnya sebagai
berikut.

Aku pernah terlibat tengkar mulut dengan seorang laki-laki
yang kebetulan beribukan perempuan A’jamiyyah (non-Arab). Aku
ungkit-ungkit dan aku cerca habis-habisan ia bersama ibunya.
Ternyata, ia kemudian melaporkanku kepada Rasulullah SAW. Nabi
SAW segeram memanggil dan menginterogasiku.

“Apakah engkau pernah saling caci dengan fulan?”

“Ya”

“Apakah ibunya turut engkau bawa-bawa?”

“Ya”

Beliau pun menegurku (dengan kecaman), “Engkau nasih mengidapi
sisa-sisa jahiliah!”

5.Menunjukkan kesalahan dengan pendiaman atau permusuhan
Cara ini dilakukan sementara sampai si anak menyadari
kesalahan yang dibuatnya dan mau mengakhirinya.

6. Menunjukkan kesalahan dengan pukulan.
Ini adalah terapi terakhir. Cara ini memiliki sejumlah syarat
yang harus Anda ingat-ingat sewaktu memperlakukan anak Anda,
sebagai berikut.
• Jangan gunakan cara ini kecuali jika memang seluruh terapi
penyadaran sudah tidak mempan lagi untuk menyadarkan si anak.
• Jangan memukul sewaktu marah atau terbakar emosi.
• Hindari bagian-bagian tubuh yang sensitif dan mudah sakit
jika memang terpaksa harus memukul/ menamparnya, seperti
kepala, muka, dada, dan perut.
• Lakukan pemukulan/penamparan dengan intensitas kekerasan
pemukulan yang bertahap, dimulai dengan pukulan ringan untuk
selanjutnya bisa ditambah.
• Gunakan alat yang tidak terlalu menyakitkan ataupun terlalu
merendahkan misalnya sepatu.
• Perhatikan usia pemukulan (lebih dari empat tahun dan kurang
dari sepuluh tahun, kecuali untuk kasus shalat)
• Jangan lakukan pemukulan untuk tujuan merendahkan,
mempermalukan, mengolok-olok, dan sebisa mungkin jangan
lakukan di hadapan kawan-kawannya.

Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Mas’ud Al Badri berkisah, “Aku
pernah memukul anakku dengan cambuk, sayup-sayup aku dengar
suara di belakangnya, ‘Ketahuilah, Abu Mas’ud! Ketahuilah, Abu
Mas’ud! Karena sangat marahnya, aku tidak bisa lagi memahami
suara itu. Ketika semakin dekat, ternyata pemilik suara
tersebut adalah Rasulullah SAW dan beliau sekonyong-konyong
berseru, ‘Ketahuilah, Abu Mas’ud! Ketahuilah, Abu Mas’ud!
Ketahuilah, Abu Mas’ud!’. Segera aku lepaskan cambuk dari
tanganku. Beliau pun bersabda, ‘Ketahuilah, Abu Mas’ud,
sesungguhnya Allah lebih berkuasa atasmu daripada kamu atas
anak ini.’ “.

Hikayat lain tentang sensitivitas orang tua memukul anak
ditunjukkan oleh salah seorang tokoh shalih. Alkisah, ia
dipenjara oleh penguasa yang zalim dan dipukuli habis-habisan,
tetapi pemukulan tersebut hanya disasarkan pada satu bagian
tubuhnya.

Ketika itulah, aku, kisah tokoh shalih itu, teringat pada
anakku. Setiap kali mengajarnya, aku selalu memegang penggaris
di tangan yang aku pukulkan ke pahanya menakala ia keliru
(membaca). Karena kesakitan dipukul pada satu tempat saja, ia
memohon-mohon kepadaku sambil menangis agar aku memukulnya di
bagian lain, tetapi aku tolak mentah-mentah.

Aku terus-menerus teringat akan peristiwa di penjara itu dan
kaitannya dengan hobiku yang selalu memukul paha anakku. Aku
menjadi semakin yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan
sesuatu tanpa pembalasan. Aku pun semakin yakin akan nasib
akhir orang-orang yang zalim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s