Nak , dengarkan omongan ibu

Menyebalkan ya, jika omongan kita dicuekin buah hati kita.
Kenali enam cara agar nasihat kita tidak “masuk telinga kanan keluar
telinga kiri”. Yuk, mari…

Anak-anak sering tidak tampak antusias untuk mendengarkan apa yang
dikatakan orang tua mereka. Ini, tentu saja, bisa sangat menjengkelkan
bagi orangtua dan situasi dapat dengan cepat berubah menjadi
konfrontasi yang “hangat”. Anda pun mengeluarkan mantra sakti dengan
nada tinggi, “Nak, dengarkan omongan ibu, dong!”

Namun sebelum mencap anak kita tidak hormat pada orang tuanya, sebaiknya
baca dulu tips Catherine Wakelin, penulis buku Talk about Anything with
your Kids. Karena, jangan-jangan kitalah yang salah strategi mengajak
bicara anak.

Sebelum menulis tips ini, Wakelin mengadakan riset langsung dengan
anak-anak dalam rentang usia 5 hingga 12 tahun tentang bagaimana mereka
menilai “cara berkomunikasi” orang tuanya. Respons mereka sangat jujur
dan mengejutkan. Berikut bocorannya buat Anda:

# Nasihat yang sama diulang-ulang; sebel!

Salah satu keluhan atas bahwa anak-anak tentang bagaimana orang dewasa
berbicara kepada mereka adalah bahwa kita mengatakan hal yang sama
berulang-ulang. Mengulang frase yang identik sungguh membusankan bagi
anak. Penting untuk dicatat bahwa, ketika anak-anak sudah memprediksi
apa yang bakal kita sampaikan, maka mereka telah membuat “benteng”
duluan dengan menutup hati dan kuping mereka.

# Kita tidak memberikan perhatian penuh kita pada mereka

Anak-anak mengatakan bahwa hal tersulit adalah mendapatkan perhatian
orang tua. Hal ini tidak mengherankan terutama bila  orangtua mereka
super duper sibuk. Ketika kita tengah bersibuk dengan satu hal, kita
jarang memberikan seseorang atau sesuatu dengan perhatian penuh, apalagi
anak-anak kita. Ini mungkin tidak tampak penting sampai kita menyadari
bahwa kita adalah model yang “sangat layak contoh” bagi anak kita; suatu
ketika kita tak memperhatikan apa yang anak kita omongkan, maka di saat
yang lain, giliran anak kita yang nyuekin kita. Tentu saja, ada
saat-saat Anda sedang sibuk dan perlu menunda percakapan dengan anak
kita. Namun ketika saatnya tiba, pastikan perhatian penuh diberikan oleh
Anda padanya; dengarkan omongannya walau tak penting bagi Anda, kontak
mata, dan tunjukkan antusiasme Anda.

# Jangan dengan nada tinggi

Apa yang cenderung kita lakukan saat kita sangat marah dengan anak?
Sadar atau tidak, Kita justru malah kerap “meledakan” mereka. Anak-anak
perlu kejelasan, kesederhanaan, dan keringkasan untuk memahami sesuatu.
Orangtua kehilangan kemampuan untuk berbicara dengan baik ketika mereka
marah dan anak-anak menjadi kewalahan oleh perasaan mereka sendiri.
Tidak ada berbicara atau mendengarkan terjadi dalam situasi ini. Maka,
turunkan emosi kita, dan berbicaralah dengan runtut dan jelas.

# Jangan berjarak

Komunikasi yang efektif terjadi bila ada keseimbangan emosional antara
pihak-pihak yang terlibat. Ketika kita merasa kewalahan dalam perasaan
marah kita sendiri, kita kehilangan kemampuan untuk melihat atau bahkan
peduli dengan perasaan anak-anak kita. Dekati anak kita, buatlah suasana
yang rileks dan nyaman, lalu ajaklah anak kita mengobrol. Pastikan kita
telah merebut seluruh perhatiannya saat itu. Isi komunikasi tak bakal
sampai jika kita berbicara di dapur, sementara anak kita berada di
kamarnya atau bahkan di halaman depan.

# Percayalah pada anak kita

Kewajiban orangtua adalah memberikan arahan, aturan, dan pedoman.
Memperkuat pesan-pesan kunci penting untuk pembelajaran hidup mereka,
tetapi pada suatu saat, kita perlu mengakui bahwa anak-anak kita telah
benar-benar telah memahami dan mengetahui apa yang telah kita katakan
kepada mereka. Jadi ketika akan mengulang pesan yang sama, alangkah
baiknya jika menggunakan prolog, “Ibu tahu kamu pasti sudah tahu kan,
bahwa…bla…bla…bla.” Tak terkesan menggurui kan?

# Jangan cuma berkhotbah, please…

Anak-anak adalah pengamat ahli. Ia sangat sadar pada situasi yang
tampaknya tidak adil. Bagaimana kita berperilaku lebih dari segudang
nasihat yang kita sampaikan. Anak-anak kita mungkin tidak selalu
mendengarkan, tetapi mereka selalu mengawasi. Percoma kita menyuruh
mereka untuk menggosok gigi tiap malam misalnya, sementara mereka tak
pernah menyaksikan kita menggosok gigi pada malam hari.

selamat mencoba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s