WANITA , ANTARA KARIER DAN KELUARGA

” Dan hendaklah takut kepada Allah orang – orang yang seandainya meninggalkan

di belakang mereka anak – anak  yang lemah yang mereka khawatir

terhadap ( kesejahteraan ) mereka….”

( QS . 4 , An – Nisaa : 9 )

Ibu , aku anak siapa ?

Dalam keluarga baik – baik , pertanyaan seperti itu bisa dianggap sebuah tamparan . dan boleh jadi , si anak yang bertanya tadi juga akan kena tamparan. Bagaimana tidak ? sudah jelas bapaknya ( sebut saja si Fulan ) , ibumya juga jelas ada ( sebut saja si Fulanah ) , dan keduanya diikat dengan tali suci perkawinan kok berani – beraninya bertanya seperti itu. Apa tidak berarti mencoreng arang di kening ?

Berbeda memang jika pertanyaan itu dilontarkan kepada keluarga yang ( maaf ) tidak baik. Misalnya, keluarga yang pada awalnya si istri mempunyai kebiasaan buruk yaitu gonta – ganti pasangan. Atau, keluarga yang istrinya terbiasa main selingkuhdengan pria lain, baik dengan diam – diam maupun dengan sepengetahuan suaminya. Kebiasaan yang terakhir ini, walau jelas keharamannya, tapi tampaknya makin menjadi trend dalam keluarga yang ( katanya ) modern ini. Sebab itu, menjadi akrab di telinga kita istilah ” pria lain “. ( Sedangkan bagi sang bapak, sudah menjadi rahasia umum juga, ia mempunyai ” wanita lain “. Jadilah keduanya berjalan seiring dan seirama dalam kesesatan ). Dan dari kebiasaan iu akhirnya berbuntut kehamilan. Menjadi layak bukan, jika kemudian si anak  berani bertanya demikian? ( Dalam praktek mungkin tidak gampang ditemukan, kecuali sebatas omongan orang. Rasan – rasan, dalam istilah jawa-nya. Kalaupun ada, si anak tentu akan dimarahi habis – habisan. Atau kalau tidak, si anak akan di beri jawaban yang ” melegakan “walaupun mungkin sang ibu ” terpaksa ” harus menipu. Sebab ia sendiri juga bingung menentukan, ” Siapa sebenarnya bapak dari anaknya itu ” ).

Hanya saja pertanyan diatas  memang tidak usah dikaitkan dengan baik – buruknya sebuah keluarga menurut proses, sejarah, maupun ” kebiasan modern ” di dalamnya. Sebab, pertanyan itu tidak lebih hanya merupakan sebuah gugatan tentang ketidak mengertian seorang anakdalam pengasuhan dirinya. Mau mengaku anak dari bapak ibunya, tapi yang mengasuh dirinya adalah orang lain, yang tidak berhubungan darah dengannya. Misalnya, pembantu rumah tangga, ataupun baby sitter. Dalam benaknya terpikir, ” ibu hanyalah melahirkan aku saja, setelah itu tidak peduli ! “. Sedangkan bapakjuga terlalu asyik dengan kerjanya. Tapi, jika tidaak mau mengaku anak dari bapak – ibunya, takut jugaia dicap dan masuk katagori sebagai anak durhaka. Naudzubillah! Membingungkan memang!

Tanggung jawab anak terlatak di kedua pundak orang tua. kenyataan seperti itu tidak ada yang memungkiri. Hanya saja, dalam kehidupan sebuah keluarga di rumah, sosok ibumemang akan lebih akarab dengan anak – anak di banding dengan  sosok bapak. Kenapa? Sebab, bila dihitung secara prosentase, intensitas bertemu dan berinteraksi dengan anak, ibu memang lebih besar. bila dirunut sedari kecil, misalnya ibu sebagai ratu rumah tangga sudah harus menyusui, mnggendong, meninabobokan, dan sebagainya. Sementara bapak harus rela keluar rumah mencari nafkah sebagai wujud tanggung jawabnya. bila begitu tanpa menafikan pentingnya perhatian bapak, adanya perhatian ibu di rumah terhadap anak – anaknya memang teramat penting.

Allah telah berfirman:

” Dan, hendaklah kamu tetap dirumahmu, danjanganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang – orang jahiliah yang dahulu….” (QS. 33. Al – ahzab : 33 )

Ayat itu memeng di turunkan khusus untuk para istri Nabi SAW. Dan mereka sepatutnya menjadi teladan bagi wanita – wanita mukminat ( Tafsir ibnu Katsir [6] : 304). Apakah kemudian beeratibahwa kaum muslimah harus mengurung diri di rumah dan tidak perlu sama sekali keluar rumah ? Tentu tidak sebab, para istri Nabi pun keluar rumah untuk keperluan – keperluan penting.

Dalam sebuah keluarga perhatian yang perlu di berikan orang tua kepada anak antara lain : pendidikan keimanan, moral, fisik, intelektual, psikis, sosial.

Semua kebutuhan itu mutlak perlu di penuhi dan diberikan  dam proporsi yang seimbang, jika orang tua ingin anaknya tumbuh dan berkembang dengan sehat. Dalam hal ini dengan dukungan aktif dari bapak seorang ibu dirumah memegang kunci penting.

Bagi ibu di rumah, memberikan perhatian dan mendidik anak – anak jangan dianggap sebagai pekerjaan sia – sia dan tidak berharga. Sebab, pendidikan yang berhasil akan membuahkan sosok anak yang shalih – shalihah. Bukankah bila sudah tecipta anak – anak yang seperti itu merupakan kekayan  yang sungguh berharga?.

Dalam tinjauan ukhrawi pun, orang tua yang mau mendidik anak -anaknya akan membuahkan pahala.  dalam hadits Rasulullah SAW mengatakan ” Seseorang yang mendidik anaknya lebih baik dari pada bersedekah satu sha ” ( HR. Tarmidzi ). dengan begitu pemahaman sebaliknya orang tua yang tidak mendidik anak nya tidak akan menuai pahala bahkan mendapat dosa karena telah berlaku aniaya terhadap amanah yang di embanya.

Peran ibu sangat besar dan menentukan dalam mendidik anak – anaknya. Hanya saja sayangnya di era modern ini makin sedikit kaum ibu mau menyadari peranya itu. dalam benaknya terpikir, toh untuk mendidik anak di rumah bisa diserahkan  baby sitter. Apalagi untuk menjadi baby sitter pun harus menempuh pendidikan tertentu.Karena itu untuk ajang aktualisasi diri, demi mengejar karier dan prestasi banyak kaum ibu yang berlenggang keluar rumah mencari kerja tak mau kalah dengan suaminya, bapak dari anak -anaknya.

Secara praktis pemikiran untuk menyerahkan pendidikan anak kepada baby sitter di rumah memang ada benarnya. Akan tetapi, apakah cara itu bisa menyelesekan masalah? Apakah ibu bisa menjamin dan mengontrol perkembangan pendidikan anak – anaknya sedari kecil? Apakah akan bisa sama cara dan pola pendidikan yang ibu inginkan dengan cara dan pola yang diberikan oleh baby sitter dalam praktek? Apakah ibu tidak khawatir bila nanti si anak akan lebih dekat dengan baby sitter dibanding dengan ibunya?Apakah tidak tertusuk hati ibu bila nanti si anak akan menangis jika baby sitternya pergi dan cuek saja jika ibunya yang pergi? Lalu bagaimanapula ibu harus mempertanggung jawabkan semua itu pada suami jika ternyata pendidikan anak -anaknya kacau balau? Lebih jauh lagi bagaimana harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah nanti.

Bekerja, berkarier bagi kaum wanita tidaklah dilarang dalam islam. Hanya saja dalam tinjauan syari,bekerjanya itu bukan merupakan hal yang sunah, apalagi wajib. Sebab tanggung jawab memberi nafkah keluarga ada di tangan suami. Allah telah berfirman :

” Kaum laki – laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka ( laki – laki ) atas sebahagian yang lain ( wanita ), dan karena mereka ( laki – laki ) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…. ” (QS. 4, An – Nisaa : 34 ).

Kalaupun akhirnya seorang ibu memutuskan untuk berkarier dan bekerja maka ia harus menyadari batas – batasanya. Tapi akan lebih baik lagi jika, ia mampu menciptakan pekerjaan di rumahnya. Hal lain yang perlu disadari, jangan beranggapan bahwa dengan mencukupi kebutuhan anak secara materi, berarti telah menunjukan kasih sayang pada anak. Menunjukan kasih sayang kepada anak secara salah justru akan menjadikan anak merasa terbuang dan ingin mencari pelampiasan.

Sebuah Renungan

Sulit di pungkiri, trend wanita keluar rumah untuk bekerja, lengkap dengan atributnya : dandanan menor, pakaian belah sana – sini, bau parfum yang menyengat, pergaulan campur dan sebagainya merupakan peniruan saja  trend global budaya barat. Dalam kaitanya dalam masalah ini menarik untuk di renungkan  pendapat Musthafa Afandy Shabry ( dalam Hussain Muhammad Yusuf, 1991: 40 ) ” Barang siapa yang memandang realitas Barat tentu akan mengira mereka sudah mampu mengangkat derajat wanita. Dan ketika ia mengalihkan pandanganya ke Timur, ia akan menganggap wanitanya dikekang dan dibelenggu. Orang – orang Barat mengangkat derajat wanita sebagai dalih untuk mencari pemuasan nafsunya. Mereka mengeluarkan wanita dari biliknya…sehingga bergabung dengan laki – laki dengan dalih hak dan emansipasi wanita, pada dasarnya untuk meringankan beban hidup mereka. Sehingga dengan begitu mereka tidak perlu mencari pendapatan ganda karena wanitanya sudah bekerja sendiri.

Bila demikian apakah kaum wanita mau ditipu lagi dengan budaya Barat itu ? Tidakah mereka perlu memikirkan kembali kewajiban pokoknya sebagai ibu penerus generasi, sehingga tidak meninggalkan generasi yang lemah, seperti yang sudah dikonstatir dalam ayat di awal tulisan ini? Memang, kesejahteraan yang non materi kasih sayang misalnya juga penting. Semuanya harus dipenuhi, saling mengisa.

Disalin dari : Buletin dawah Labbaik

One Response to WANITA , ANTARA KARIER DAN KELUARGA

  1. Peduli Pendidikan mengatakan:

    apakah benar kebudayaan barat menipu wanita ?
    atau apakah tidak diri kita sendiri yang menipu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s